Aku bingung, bingung untuk mulai menyusun sebuah kata hingga terbentuk susunan kalimat yang akan kukatakan padamu. Simple saja, aku capek mendengarmu ribut tiap hari dan mengulang semua kalimat-kalimatmu yang sama sepanjang hari. Soal ketidak jujurannyalah, sikapnya yang egoislah, dia yang gak bisa ngerti kamulah dan masih banyak lagi kritikan-kritikanmu untuknya. Aku diam, dan terus diam karena aku tak ingin menyakitimu dengan kebenaran ceritaku yang akan menghancurkan hatimu. Aku sudah berusaha menahan semua amarah dan kekecewaanku selama ini, semua itu kulakukan karena aku tak ingin menyakitimu. Aku tahu jiwamu rapuh, aku tahu hatimu seperti kaca yang mudah retak tersentuh kata. Aku tahu semua tentang kamu walaupun aku tak pernah berkata atau meneriakkannya didepanmu.
\\\'my dear, apa kabar?\\\' lagi-lagi kau datang padaku menjelang petang. Aku heran mengapa akhir-akhir ini kau menemuiku menjelang petang.
\\\'qmuu tau gak hari ini aku berantem lagi ma dia, (yach cerita yang sama dengan kemarin dan hari-hari sebelumnya) aku cuma pengen menghabiskan sedikit waktuku dengan fajri sahabat kecilku tapi dia gak pernah rela melihatku membagi waktu dengan orang lain,dear. Apa aku salah meluangkan sedikit waktu dengan sahabatku? Kamu tau kan dear selama ini aku gak pernah punya waktu untuk orang lain bahkan untuk diriku sendiri karena semua waktuku telah habis untuknya.
Dear, kadang aku pikir betapa egoisnya dia. Sejak dia bersamaku aku mulai melupakan orang-orang disekitarku bahkan aku mulai melupakan siapa aku.
Ini benar-benar menakutkan, dear.
Apakah kau pernah membayangkan seluruh waktumu beserta kenangan didalamnya mulai habis untuk satu hal saja?
Dear, selama ini aku berusaha melawan kediktatorannya tapi semua tak berlangsung lama karena aku selalu kalah darinya. Kau lihatkan bahkan aku mulai menyerah dan lemah darinya.\\\'
Hening diantara kami,
Kau mulai lagi ritual diammu sebelum akhirnya melanjutkan semua kalimat-kalimatmu. Aku masih terus menatap wajahmu yang sayu dan terlihat lelah didepanku.Aku ingin selalu memelukmu dan meyakinkanmu kalau kamu kuat, tegar dan pasti bisa meninggalkannya.
\\\'My dear, jangan pernah lelah untuk mendengarkan semua cerita-ceritaku yang membosankan. Entahlah kadang aku merasa kau mungkin muak melihatku dan semua bualanku yang menjijikan ini. Tapi kemana lagi aku harus mencari orang yang mau mendengarkan teriakan-teriakan hatiku? bahkan aku lupa dimana mereka berada.\\\'
\\\'Tapi tenang saja aku tak akan pernah melupakanmu, yah setidaknya selama ini aku belum melupakanmu setelah kehadirannya. Kau adalah kenanganku yang masih utuh dikepalaku, kau adalah otak keduaku yang menggantikan otak pertamaku yang sudah mulai rapuh dan tua. Ingat itu dear.\\\'
Kau mengakhiri kalimatmu dengan menciumku sesaat sebelum kau mulai menjauh dariku.Kulihat seorang ibu setengah baya menarikmu dan menuntunmu masuk ke kamarmu, sebelum aku sempat mengatakan apapun kepadamu. Lagi-lagi kau meninggalkanku sendiri disini, ah andaikan aku punya kaki. Samar kudengar dia mengajakmu berbicara tapi aku tahu semua itu percuma. Kau tak akan pernah mengerti apa yang ibumu katakan karena kau tak mengenali kalimat-kalimat yang keluar dari bibirnya. Alzeimer akut yang kau derita telah mengambil seluruh ingatanmu, tragis sekali bukan diusiamu yang masih 25tahun kau sudah mendapatkan penyakit mengerikan itu dari kakekmu. Aku dan lembaran-lembarankulah yang selama ini menemanimu sepanjang hari dan menjadi ingatanmu sebelum akhirnya kau akan mencampakkanku karena tak mengingatku lagi.
Waktu itu aku, Fabian dan Kekasihku Jessica pergi merayakan hari jadian kami yang ke-3 tahun. Kami pergi ke sebuah pantai. Sebuah Pantai pasir putih dan dihiasi oleh gundukan-gundukan batu besar, dengan tebing-tebing landai yang mengelilinginya.. Sebuah pantai yang selalu sepi karena belum diketahui oleh kebanyakan orang. Sebuah pantai yang selalu membuat orang yang pernah menginjakkan kakinya di atas pasir lembut itu terkagum-kagum dengan pesonanya yang tak dimiliki oleh pantai-pantai lain. Sebuah pantai yang kami namai dengan “La Verdadera Inmortalidad ”. Seperti cinta kami, cinta sejati yang selalu kekal dalam keabadian.
Setelah menghabiskan senja kami yang mungkin takkan pernah terlupakan, kami memutuskan untuk pulang. Tapi sebelum beranjak pulang. Tiba-tiba Jessica memintaku untuk mengambil gambarnya dengan kamera yang selalu aku gantung pada leherku. Entah kenapa hatiku seolah berkata tidak, tapi entah kenapa juga setiap melihat wajah polosnya aku tak pernah bisa untuk berkata tidak. Kemudian dengan sigap dia langsung berdiri di atas batu besar yang tadinya kami duduki.
Dari lensa kameraku, aku melihat sebuah batu sebesar kepalaku jatuh menimpa kepala Jessi dan membuatnya terkapar. Aku melepaskan kamera yang talinya masih menggantung dileher dari tanganku dan langsung berlari menghampiri tubuhnya yang tergeletak di atas pasir. Melihatnya begitu kesakitan segera aku membopong tubuh Jessi dan membawanya pergi ke rumah sakit terdekat.
Dalam perjalanan ke rumah sakit, aku selalu meyakinkannya jika semuanya akan baik-baik saja. Aku terus mengusap darah dari kepalanya yang aku rebahkan dalam pangkuanku. Tak perduli lampu lalu lintas yang berwarna merah, aku terus saja melaju cepat. Jessi mulai terdiam.
“ Jess, please jangan diam saja, bicaralah sesuatu..” “ I love U,,” Jessi menjawab walau dengan terbata-bata.
Aku melarangnya mengucapkan kalimat tersebut karena aku tahu itu bisa saja berarti sebagai kalimat perpisahan. Namun kemudian………..
Lima belas hari kemudian. Hari-hariku lebih banyak kuhabiskan dengan merenung di pantai. Hatiku terasa remuk seperti kaca yang telah hancur. Yang tak bisa disatukan kembali. Aku merasa tak ada gunanya lagi hidup di dunia ini. Dan entah apa yang telah menggelapkan mataku. Kubuka tutup botol kecil yang akhir-akhir ini selalu kubawa dari rumah setiap aku pergi ke pantai. Dan tanpa ragu-ragu aku menenggak isi botol itu yang tak lain tak bukan adalah racun. Sempat aku tertawa sengit membaca tulisan yang ada pada segel botol tersebut,
“Racun ampuh, sekali telan langsung mati, tanpa rasa sakit…..
Belum selesai aku membaca, aku seperti mendengar seseorang yang memanggil namaku.
“ Jessi ! !” Seruku lirih tak percaya.
Dan semuanya pun terlihat gelap………
Aku tidak tau kenapa aku tidak dapat bersama dengan Jessi lagi, padahal kini dunia kami telah sama. Kemudian sesuatu mengingatkanku, mungkin karena aku memaksa untuk kembali di samping Jessi. Dan mungkin ini memang belum waktuku untuk menemaninya. Aku terlantung-lantung di dunia nyata, tak tahu harus berbuat apa. Terfikir olehku sebuah pertanyaan yang menggelikan,, inikah rasa menjadi hantu,?. Bisa melakukan apa saja tapi tak tahu apa.
Asal tahu saja, aku bukan seperti hantu kebanyakan, yang takut akan cahaya matahari. Aku bisa berkeliaran kapanpun aku mau. Pagi, siang, sore, malam, terserah apa kata hati. Siang hari aku hanya menggelandang menuruti langkah kaki. Dan pada malam hari aku hanya bersantai dengan merebahkan tubuhku di atas bongkahan batu besar dengan menatap kosong langit malam di pantai. Merenung, tapi tak tahu apa yang sedang aku renungkan. Semuanya maya.
** # **
Aku tak mau hariku hanya begini-begini saja. Dan aku putuskan untuk mencari sesuatu yang beda. Aku pergi ke sebuah taman kota. Banyak sekali pasangan yang sedang asyik mengumbar kemesraan mereka. Dan itu mengingatkanku pada Jessi. Aku terus berjalan menyusuri jalan-jalan setapak. Langkahku terhenti, aku terpaku, tak percaya dengan apa yang sedang aku lihat. Jessi. Apa ini hanya bayanganku atau dia memang Jessi yang menjadi hantu sepertiku.
Aku berteriak memanggilnya. Namun tak ada respon. Kucoba sekali lagi, dia masih tetap tak bergeming. Kuulangi lagi, kali ini ku perkeras suaraku. Dia menoleh dan tersenyum ke arahku. Aku berjalan menghampirinya saat dia mulai beranjak dari duduknya. Seperti pengembara yang menemukan sebuah oase di tengah panasnya padang pasir. Begitulah perasaanku. Namun, seorang pria datang menembus tubuhku dari belakang. Ternyata bukan aku yang dia sambut, melainkan pria itu. Dan aku sadar oase itupun hanya fatamorgana.
Aku masih penasaran siapa sebenarnya gadis itu. Ku inguti ke manapun mereka melangkah. Namun pemandangan tak mengenakkan terjadi.
“ ploocks..! ! !”
Sebuah tamparan mendarat mendarat di pipinya. Aku terperanjak namun aku tahu aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya melihat mereka beradu mulut saling menyalahkan. Aku tak tahu pasti apa yang membuat kemesraan yang tadi mereka umbar berubah petaka seperti ini. Sang pria kemudian meninggalkan gadis itu sendirian. Perlahan aku menghampirinya. Melihat air mata gadis itu aku marah dan ingin sekali menghajar pria tersebut. Namun apa daya. I’m a ghost. Menyentuhpun ku tak bisa, bagaimana aku menghajarnya. Aku seperti merasakan apa yang telah gadis itu rasakan. Mungkin karena dia mirip dengan Jessi.
Setelah menenangkan dirinya, gadis itupun beranjak pergi. Aku terus mengiringi di sampingnya. Sampainya di rumah, sebelum dia menutup pintu gerbang, dia melihat setiap ujung jalan, seperti sedang mencari sesuatu. Mungkin dia merasa telah aku buntuti. Namun karena tak menemukan apa yang dicari, segera dia menutup pintu gerbang dan masuk ke dalam rumah menuju ke kamar tidurnya. Aku masih mengikutinya.
Aku duduk di sampingnya, mencoba menyeka air matanya namun tetap saja ku tak bisa. Aku tak ingin dia sendiri, kuputuskan untuk menemaninya sampai dia memejamkan mata.
** # **
Sekarang ini kau punya satu kegiatan baru. Mengikuti duplikat Jessi yang kini ku tahu namanya, Diandra. Seorang anak kelas 2 salah satu SMA swasta. Aku tahu semua tentang dia setelah sembilan hari menjadi bayangannya. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku melakukan hal tersebut. Tapi setelah peristiwa kemarin, ingin rasanya aku melindunginya dan selalu ada di sampingnya di manapun dia berada bahkan sampai mengantarnya tidur.
Aku tahu dengan keadaanku sebagai hantu, aku tak bisa sepenuhnya melindungi dia. Tak henti ku mencari cara untuk bisa mempunyai kemampuan seperti manusia. Winky,,!!. Aku teringat temanku yang kutahu kalau dia memiki kemampuan supranatural. Jasadku yang ada di pantai dia yang tahu sehingga keluargaku dapat memakamkanku. Selain itu dia juga jebolan dari SMA yang sama dengan Diandra . Dan mungkin ini memang keberuntunganku, secara tak sengaja saat ini dia ditugaskan untuk mendampingi kelas Diandra untuk persiapan pentas seni dalam rangka perpisahan kelas 3. Aku harus menemui Winky. Gerutuku.
“ tidak…. ! ! ! “
“ kau mau aku meninggalkan dunia ini dalam keadaan Penasaran seperti ini… cukup hanya sampai aku benar-benar Menemukan orang yang bisa menjaga dia seutuhnya “
Dengan berbagai cara aku meyakinkan Winky untuk berkata ya. Dan akhirnya dia mau melakukannya.
“ Namun tak semudah yang kau pikirkan, akan ada beberapa persyaratan yang harus kau jalani. “
Setelah melalui berbagai macam persyaratan yang cukup membuatku kewalahan dan kini tiba waktunya untuk menguji kemampuanku. Awal aku agak ragu melakukannya, namun Winky meyakinkanku bahwa aku bisa. Perlahan aku menyentuh sebuah botol minuman di atas meja.
“ heh..heh..,, ? ? “
Tawaku tak percaya. Aku bisa menyentuh benda ?. aku tak tahu bagaimana untuk berterima kasih pada Winky. Spontan aku memeluk tubuhnya erat.
“ Aku belum mau menjadi sepertimu,,” ucap Winky berusaha melepaskan pelukanku. “ Satu lagi kau boleh ikut aku,,,,,”
Belum selesai Winky berbicara aku langsung memeluknya kembali karena aku sudah tahu lanjutan kalimat yang akan dia katakan. Namun dengan segera juga dia menampiknya. Tapi walaupun begitu aku tetap senang.
** # **
Winky dan aku mendapat tugas melatih drama dan tugas melatih bermain musik dipegang oleh 3 orang teman Winky yang lain. Satu hal yang aku kecewakan ternyata Diandra memilih untuk bermain alat musik bukan drama.Tapi itu bukan masalah yang penting aku bisa berada di dekatnya.
Aku tak mengerti, kenapa disaat teman-temannya tengah tergila-gila oleh pesonaku justru dia malah bersikap dingin padaku dan lebih dekat dengan Winky. Hingga satu minggu berlalu sikapnya masih tetap sama. Bila semua temannya berlomba untuk menyapaku berbeda dengan dia, harus aku yang menyapanya lebih dulu. Bahkan berbicara selama satu menitpun kami tak pernah. Setiap kutanya dia hanya menjawab dengan satu kata. Dan kalimat paling panjang yang pernah dia katakan padaku adalah
“ tak setiap pertanyaan butuh jawaban ‘kan? ”.
Jawaban itu dia ucapkan saat aku bertanya kenapa dia kenapa sikapnya terhadapku tak seperti teman-temannya yang lain. Mendengar jawaban itu aku langsung terdiam.
“ Sadar atau tidak itu adalah kalimat terpanjang yang pernah kau ucapkan
padaku.! ! “.
Teriakku saat dia berjalan meninggalkanku. Dia menoleh padaku dan tersenyum.
“Dan itu merupakan yang petama kalinya juga kau terseyum padaku “.
Teriakku padanya sekali lagi. Namun dia hanya berlalu begitu saja. Aku pun tersenyum dan pergi menyusul Winky yang sedang asyik bergurau dengan teman-teman yang lain di taman sekolah.
Tujuh hari sebelum acara perpisahan. Untuk mengejar deadline kami harus berlatih sampai petang. Begitu pula dengan Diandra, dia masih harus memoles permainan gitar akustik dan suaranya.
Setelah membenahi semua peralatan yang kami pakai. Semuanya langsung pulang. Tak terkecuali Diandra. Aku melihatnya keluar dari pintu gerbang sekolah dengan temannya. Namun sesampainya di pertigaan jalan temannya berbelok arah. Dan kini tinggal Diandra berjalan sendirian dengan diterangi lampu jalanan. Tak lama kemudian ada sesuatu yang menghentikan langkahnya. Di sebuah gang. Dia melihat dua orang preman sedang melancarkan aksinya pada seorang pria tak berdaya. Namun karena pria itu terus memberontak akhirnya sebilah pisau tertancap di perutnya.
Entah apa yang ada di pikiran Diandra, dia merekam semua itu dengan kamera handphone-nya. Sial baginya salah seorang dari preman itu mengetahuinya. Sadar dia telah tertangkap basah, Diandra langsung berlari menyelamatkan diri. Tak mau kemungkinan buruk terjadi seorang preman mengejar Diandra. Sekencang mungkin dia mencoba berlari. Kemudian dia berbelok ke sebuah jalan yang tak terlalu lebar di antara tembok-tembok perumahan yang menjulang tinggi. Yang aku takutkan benar adanya. Jalan buntu. Hanya ada sebuah gang sempit. Aku tahu jika Diandra terus berlari pasti akan tertangkap juga oleh preman tersebut. Ketika dia hendak berbelok ke arah gang tersebut ku tarik lengannya. Dia terkaget, dikiranya aku si preman. Ku hempaskan tubuhnya pada pagar tembok berwarna abu-abu. Dan untuk menutupi baju seragam Diandra, ku pakaikan dia jaket yang tadinya kusampirkan pada pundakku.
“ Kau..? ? “
“ Kiss me.. ! ! “
“ Gila,,!!. Pernah ngga’ kau berpikir mungkin ngga’ aku melakukan hal seperti itu denganmu ? ?”. “ pernah ngga’ kau berpikir apa yang dilakukan oleh preman itu saat dia berhasil menangkapmu ? “.
Aku tahu Diandra masih memikirkan apa yang baru saja kuucapkan. Namun saat dia si preman itu sudah mulai mendekat. Dia langsung mendaratkan bibirnya pada bibirku. Sesaat waktu terasa berhenti sebelum si preman itu membuyarkan suasana.
“ Heih, lihat cewek pake baju seragam SMA lewat sini?..”
Aku memutar tubuhku untuk untuk menutupi rok seragam ! ! !. kemudian aku menunjuk ke arah gang jalan agar preman itu segera pergi dari situ. Sedikit aku mendengar preman itu berujar.
“ Dasar gila...! ! “
Setelah si preman menjauh, dengan segera ! ! ! menarik dirinya. Dia hanya mengucapkan terima kasih kemudian dia pergi. Aku terdiam sejenak melihatnya melangkah menjauhiku.
“ Kau mau apa lagi ? “ tanyanya padaku saat tahu aku mengikutinya. “ Apa kau tidak takut seandainya preman itu kembali lagi ? “ “ Tapi aku lebih takut lagi kalau kejadian seperti tadi terjadi lagi “
Aku hanya tersenyum kecut mendengar kalimat itu. Kami sendiri tak tahu apa yang telah mencairkan suasana malam itu. Tiba-tiba saja semua menjadi sangat mudah. Kini dia tak lagi bersikap dingin seperti dulu. Sepanjang perjalanan kami terisi dengan obrolan-obrolan hangat yang kadang dibumbui dengan lelucon yang tak penting. Waktupun berlalu sangat cepat, tanpa kami sadari kami sudah tiba di depan rumahnya.
“ Oh ya,, mau kau apakan video itu ? “
Dia kaget mendengar aku bertanya tentang video itu. Dalam hatinya bertanya darimana aku bisa tahu mengenai video itu.
“ Heih,, kok malah bengong si ? video itu buat apa? “
Tanyaku sekali lagi membangunkan dia dari lamunannya.
“ Aku akan menyerahkannya pada polisi.. “ jawabnya gelagapan.
Dia mengajakku masuk ke rumahnya. Aku melihat jam yang melingkar pada pergelangan tanganku. Waktu sudah menunjukkan pukul 09.13. Karena aku tahu ajakannya itu hanya formalitas saja, jadi aku mencari alasan untuk langsung pulang saja.
Sejak malam itu hubunganku dengan Diandra menjadi lebih dekat. Dan hal itupun terasa aneh di mata teman-teman satu kelasnya. Karena sejak awal aku datang mereka tahu kalau hubungan kami agak tidak enak walaupun mereka tidak mengerti kenapa. Tapi aku dan Diandra hanya acuh akan itu semua.
Kali ini latihan diakhiri lebih awal karena dikhawatirkan peserta menjadi kelelahan saat hari H. Kuberanikan diri mengajaknya pergi ke pantai. Sempat aku mengira dia akan menolak namun ternyata aku salah. Kupijam motor Dendra dan kamipun meluncur ke pantai La Verdadera Inmortalidad.
Sampainya di pantai. Diandra langsung terpesona dengan apa yang baru pertama kali dia lihat itu. Dia berlari mendekati air. Aku tersenyum melihatnya. Tak pernah aku melihat dia tertawa selepas itu. Akupun ikut bergabung dengannya. Matahari kini mulai tenggelam. Kami berdua duduk di atas batu besar. Batu yang juga selalu ku duduki bersama Jessi dulu. Ku pejamkan mata mencoba mengenang kembali saat-saat bersama dengan Jessi. Saat-saat di mana Jessi berada dalam pelukanku dan merasakan hangatnya semburat matahari senja pada waktu itu.
“ Bukannya kita duduk di sini untuk melihat sunset ya? “
Suara Diandra mengembalikanku ke dunia nyata.
“ kenapa kau justru memejamkan matamu ? “
“ Kebanyakan orang beranggapan kalau Tuhan menciptakan Matahari terbenam untuk dilihat. Tapi bagiku dia diciptakan agar kita bisa merasakan kehangatan Tuhan “.
Tanpa aku memintanya, Diandra ikut memejamkan mata. Ku pandangi wajahnya.
“ Jessi,,!! “ Tak ku sadari nama itu keluar begitu saja dari mulutku. “ heh.. ? ? “ Tanya Diandra tak mengerti nama siapa yang baru saja kusebut.
Aku hanya menjawab tak ada apa-apa dan kembali menutup mataku. Diandra hanya menggelengkan kepalanya karena mungkin menganggapku aneh lalu dia juga kembali memejamkan matanya. Kini matahari sudah tenggelam dalam lautan, kamipun memutuskan untuk pulang. Sebelum menaiki motor, ku pakaikan jaketku pada Diandra yang mulai merasa kedinginan.
Satu hari sebelum pementasan. Seperti biasa aku dan Winky selalu berangkat bersama.
“ Fabian, ambilkan kunci motor di atas meja…! ! “ teriak Winky dari luar rumah.
“ meja yang mana ? ? “ tanyaku dari dari dalam rumah juga dengan berteriak. “ meja telepon..! ! “
Ku hampiri meja telepon kemudian ku pungut kunci motor yang ada di atasnya. TIDAK, hatiku berteriak tak percaya dengan apa yang terjadi. Akupun terduduk di lantai. Karena aku tak kunjung keluar Winky yang menunggu di atas motor menyusulku ke dalam rumah.
“ Sudah ku bilang kuncinya ada di atas meja tel…….. “
Kalimat Winky berhenti saat dia melihatku terduduk di lantai.
“ Apa yang….. kau…. ? ? “ aku tersenyum kecut melihat ekspresi wajah Winky. “ Sudah hampir saatnya,,, “ jawabku putus asa.
** # **
Di sekolah. Waktunya gladi resik. Semua pelakon drama di ajak Winky latihan langsung di atas panggung yang sudah diset di aula sekolah. Begitu juga dengan para pemain musik. Sebelumnya mereka menanyakan kenapa aku tidak datang. Winky mencari alasan logis untuk menjelaskan kenapa aku tidak dapat meneruskan pelatihan drama.
Dari sudut aula mata mencari sosok Diandra. Karena tak ku temukan, aku mencoba mencarinya di ruangan lain. Aku pergi ke studio musik namun dia tak ada. Saat aku akan masuk ke dalam ruang kosong yang biasa kami gunakan untuk latihan drama, aku mendengar seseorang sedang bernyanyi. Lagu itu terdengar sangat sedih menusuk hati. Ku ikuti suara itu. Suaranya berasal dari belakang ruangan. Sudah kuduga. Diandra .
Aku tidak pernah mendengar sebuah lagu yang benar-benar dinyanyikan dari dalam hati seperti ini. Saat aku mendekatinya, ku lihat air mata mengalir di pipinya. Dia melihat kearahku. Ku pikir dia masih bisa melihatku. Tapi ternyata dia hanya menoleh karena dipanggil temannya.
“ Di, sekarang giliranmu latihan… “. seru temannya itu.
Lekas dia menyeka air matanya dan pergi meninggalkan tempat itu.
** # **
Hari pementasanpun tiba. Setelah drama yang berjudul “ Tak Ada yang Abadi “ selesai. Kini tiba giliran Diandra untuk menunjukkan hasil latihannya selama ini.
“ Tiba saatnya telinga kita akan dimanjakan dengan alunan lagu dari
Diandra, yang akan diiringi dengan gitar akusktiknya “.
Oceh si pembawa acara.
“ Lagu ini ku persembahkan untuk kakak-kakak kelas 3, kepada Bapak dan
Ibu guru, juga untuk seorang pencuri. Seorang pencuri yang diam-diam masuk dalam hati dan menggasak habis cinta yang ada di dalamnya, yang
kemudian enyah begitu saja…”
Mendengar Diandra berbicara seperti itu, panitia acara kebingungan karena itu tak ada dalam scenarionya. Diandra mulai bernyanyi. Tak lebih dari lima menit, Diandra mampu menghipnotis semua orang yang ada di dalam aula dengan nyanyiannya itu. Tak ada sepasang matapun yang tak tergenang oleh air mata.
Setelah mengkhatamkan lagunya, Diandra langsung berlari meninggalkan panggung karena sudah tak kuasa lagi membendung air matanya. Di belakang panggung kulihat dia menghampiri Winky dan menarik lengannya. Mereka masuk ke dalam ruang ganti yang waktu itu sedang kosong.
“ Tak perlu ku jelaskan lagi kau pasti sudah tahu apa Maksudku “ Serobot Jessi. “ percuma, ku jelaskan pun kau tak akan mempercayainya “.
“ Just tell me, where is Fabian? “.
Karena tak tega melihat Diandra tersiksa karenaku. Kemudian Winky mengajak Diandra pergi ke rumahnya.
Di rumah. Winky menceritakan semua tentang diriku kepada Diandra. Mulanya dia tak percaya namun setelah Wnky memperlihatkan foto hasil jebretanku dan sebuah surat kabar yang memberitakan tentang kematianku Diandra hanya bisa terdiam. Perasaannya campur aduk tak keruan.
“ Di mana dia sekarang ? “ “ Kau yang tahu di mana dia “.
Dengan cepat Diandra menyambar dan menyeret tangan Winky agar mengantarkannya ke pantai. Sampainya di pantai, Diandra langsung berlari ke bibir. Dia hanya berdiri dan tak melakukan apa-apa. Rambutnya seperti terbang di hempas angina. Matanya tajam menatap matahari yang hendak terbenam. Tak jauh di belakangnya, Winky juga hanya berdiri terdiam dengan kedua tangan yang dia masukkan ke dalam saku celana. Dia mengingat satu kalimat yang pernah kuucapkan.
“ Kebanyakan orang beranggapan kalau Tuhan menciptakan Matahari
terbenam untukdilihat. Tapi bagiku dia diciptakan agar kita bisa merasakan kehangatan Tuhan “.
Kemudian secara perlahan dia mengatupkan kelopak matanya. Pancaran sinar matahari membuat Air matanya terlihat seperti bitiran berlian yang mengalir pada kedua pipinya.
“ Tuhan beri aku kesempatan sekali lagi saja, satu menit kurasa cukup, agar aku bisa memeluk dan menenangkan hatinya. Cuma itu permohonan
terakhirku Tuhan…. “
Entah apa yang telah merasukiku. Tapi firasatku mendorong lidah ini untuk berbicara.
“I’m not a thief …! ! “
Segera Diandra membuka matanya dan langsung memelukku. Aku menoleh pada Winky memberi isyarat padanya kalau dia harus melindungi Diandra setelah aku pergi nanti. Dan dia hanya menganggukkan kepalanya. Perlahan kulepaskan pelukanku namun Diandra seakan tak merelakannya.
“ I’ve to go “
“ Bagaimana denganku ? “ “ Kurasa ada orang lain yang lebih pantas “
Aku melihat pada Winky saat mengatakan kalimat terakhirku. Diandra mengikuti ke mana arah pandanganku.
“ Tapi aku…… “
Kalimatnya terputus setelah mendapatkanku sudah tak ada di hadapannya lagi. Kemudian Winky menghampirinya. Di rengkuhnya pundak Diandra. Dan Diandrapun tak ragu lagi menyambutnya.
** # **
Aku berada di sebuah tempat tak berujung yang semuanya berwarna putih. Dari kejauhan aku melihat sebuah titik hitam kecil yang kurasa semakin lama semakin mendekatiku. Seorang gadis dengan wajah yang tak asing lagi tersenyum padaku.
“ Jessi ... ! ! “
Namun tiba-tiba sebuah tamparan mendarat di pipiku.
“ Aauuch…! ! !, apa yang….. “
“ Bodoh, ke mana saja kau ? apa kau tidak berpikir kalau aku Di sini sendirian..! ! “.
“ He..he..he.. sorry.. aku cari cewek baru dulu! ! “
“ Jahat.. ! ! “
Jessi terus memukulku tapi aku terus menggodanya. Dan akhirnya kami benar-benar berada dalam keabadian yang sejati.
Walau hampir basah pipi ini dengan air mata tak percaya…
Getir…. Saat kau ucapkan setiap kata yang terbungkus cerita tentang kamu dengan dia…
Tapi sudahlah, aku bisa terima semua itu… dan berharap, tak ada lagi cerita yg keluar dari bibirmu tentang masa lalumu itu, karena aku masih ingat jelas rasa sakitnya…
Sejak saat itu, hariku tak lagi membosankan…
Sejak saat itu, ada wajah dan warnamu dalam setiap ruang di hati dan fikiranku
Ada senyummu, pandanganmu dan suaramu di sela-sela aku menghela nafas…
Sungguh, kamu begitu memberi arti di dalam kisah hidupku
Sampai kusadari, aku bukanlah orang yang kau cari…
Aku bukanlah pangeran dalam mimpimu…
Aku bukanlah pembawa bahagian di masadepanmu,
Aku hanya seorang pemimpi, yg dapat halangi kamu untuk temukan belahan hatimu yang lain..
Aku tak bisa menjadi tanpa batas dimatamu…
Akupun Kadang tak bisa selalu ada disisimu saat kamu butuh aku..
Aku tak bisa janjikan waktu-waktu indah untuk kamu,
Aku sadar benar, semua ini menyiksamu… aku dan kenangan-kenangan kita
Bila kita tak mungkin lagi bersatu,…
Sungguh….
Aku akan tetap berusah selalu ada untuk kamu,
Walau tak mungkin lagi hatimu utuh untukku..
Semoga kamu temukan cinta sejatimu, tanpa batas… hingga dunia tau….
Sesungguhnya ada ruang di dalam mata indahmu..
Ruang yang hanya pantas diisi dengan cinta tulus dengan hati…
Aku Cinta Padamu…
Terima kasih, untuk semua sayang dan cintamu.. yg membuat aku akan sangat kehilanganmu..
Jangan lupakan aku.. sungguh, kisah ini jadi penggalan manis dalam hidupku,